Perkembangan minat baca masyarakat dalam dekade terakhir ini, boleh dibilang mengalami stagnasi dan ambivalensi. Adakalanya semangat masyarakat untuk membaca buku begitu menggebu-gebu. Bahkan tidak jarang, keinginan mereka dalam menuntaskan isi buku yang dibacanya belum sepenuhnya dilandasi atas dasar mengambil manfaat pesan yang tersirat dalam buku tersebut. Ada juga semangat mereka untuk membaca buku sama sekali tidak tumbuh dan sulit dibangun. Bahkan untuk sekedar membeli buku, seolah-olah mereka tidak memiliki kepedulian dan perhatian terhadap pembangunan peradaban bangsa. Apalagi sampai menjadikan buku sebagai aktivitas dan kebutuhan.
Di sadari atau tidak, kekuatan membaca masyarakat masih sangat jauh dari harapan. Hal ini didasarkan atas kurangnya kepekaan mereka dalam mengungkap pesan dan pengetahuan yang diperoleh ketika membaca, sehingga yang terjadi kesalahan pemahaman (misunderstanding) seringkali dialami oleh para pembaca.
Problem mendasar seperti di atas, pada dasarnya bukan merupakan persoalan krusial yang perlu diperdebatkan. Tetapi, persoalan itu hanya sebatas pada pemahaman dan kekuatan membaca masyarakat yang masih dalam tahap “membangun” dan “mengembangkan”. Paling tidak minat dan antuasiame untuk membaca buku patut diapresiasi dan merupakan potensi luar biasa dalam menumbuhkembangkan budaya baca (reading culture) di kalangan masyarakat sendiri. Walaupun, tidak sepenuhnya masyarakat yang membaca buku mampu memahami dan mengambil manfaat dari apa yang dibaca.
Memahami Bibliofil dan Bibliomania
Ketika seseorang memiliki kecintaan dan kegilaan terhadap membaca buku, maka segala hasrat yang berkenaan dengan buku akan dijadikannya sebagai sebuah petualangan intelektual yang menakjubkan. Sehingga tak heran, ketika seseorang bisa terjangkit bibliholisme, jika ia mengidap hasrat yang berlebihan membeli, membaca, menyimpan, dan menggemari buku. Ada dua jenis bibliholisme, yakni bibliofil (cinta buku), dan bibliomania (gila buku). (Jawa Pos/ 25/ 02/ 07).
Pertama, bibliofil (cinta buku). Jenis yang pertama ini merujuk pada masyarakat yang mencintai buku dengan sepenuh hati dan berdasarkan pada keinginan untuk mendapatkan pengalaman dari mencintai buku. Substansi bibliofil, dapat saya pahami bahwa masyarakat yang mencintai buku berarti orang yang memiliki kegemaran dan hobi untuk membeli buku. Biasanya, kegemaran membeli buku ini datang ketika ada pameran buku yang dilaksanakan oleh suatu lembaga kemasyarakatan atau lembaga-lembaga lain yang memiliki kepedulian terhadap minat baca masyarakat.
Adanya pameran buku ini, pada gilirannya dimanfaatkan oleh sebagian besar pelajar dan mahasiswa untuk membeli sebanyak-banyaknya buku yang mereka inginkan. Dalam pandangan mereka, hadirnya pameran buku ditengah minimnya minat baca masyarakat sangat tepat untuk dijadikan langkah awal untuk membangun budaya baca masyarakat secara berkesinambungan. Kesempatan untuk memborong buku sebanyak-banyakya terbuka lebar bagi mereka yang memiliki kecintaan membeli buku. Sebab, buku-buku yang dipajang di pameran itu kebanyakan murah-murah dan telah mendapatkan diskon cukup tinggi dari penerbit.
Dalam pandangan Kuswaidi Syafi’ie, pameran buku tetaplah menjadi sarana yang paling ampuh untuk menularkan kecerdasan kepada masyarakat luas secara terbuka. Tidak hanya komunikasi searah antar pembaca dan buku itu yang menularkan kecerdasan, tetapi juga (dan ini yang tidak kalah pentingnya) “persahabatan” dan “persinggungan intelektual” diantara pembaca yang sudah saling kenal, terutama saat mereka berjumpa di tempat pameran buku.
Kita bisa mengambil contoh pameran buku yang dilaksanakan di Gedung Mandala Bakti Wanitatama Yogyakarta. Di tempat inilah kalangan pelajar dan mahasiwa serta berbagai kalangan turut hadir memeriahkan pameran terbesar se-Indonesia ini. Antusiasme mereka terhadap adanya pameran buku yang setiap bulannya diadakan di Yogyakarta ini, paling tidak dapat mendorong minat dan semangat masyarakat untuk mencintai buku. Melalui pameran inilah, kita bisa melihat apreasiasi masyarakat supaya menjadikan buku sebagai katalisator dalam membangun peradaban bangsa.
Kedua, bibliomania (gila buku). Tipe kedua dari cacatan ini lebih menonjol dibandingkan dengan masyarakat yang hanya mencintai buku. Lebih dari pada itu, orang yang gila buku merupakan masyarakat yang menjadikan buku sebagai sebuah kebutuhan yang mesti dipenuhi. Ia tidak hanya sekedar membaca apa yang ada dalam buku, tapi yang lebih urgen adalah upayanya menguras isi dan mengambil manfaat apa yang menjadi pesan sebuah buku.
Indikasinya orang yang gila buku dapat kita baca dan perhatikan dari ketekunan dan kekuatannya dalam membaca. Ketekunan bagi orang yang gila buku merupakan salah satu nilai yang memiliki implikasi mendasar terhadap kreativitas dan keterampilannya dalam menguasai isi buku. Demikian juga dengan kekuatan orang yang gila buku, mereka memiliki orientasi yang sangat progresif dalam menilai dan menjadikan buku sebagai sebuah alat untuk mengkaji suatu persoalan.
Kenyataan yang diperoleh dari berbagai jenis buku yang dibaca, pada akhirnya memilih diperlukan untuk kebutuhan membaca, dan tiadanya bahan bacaan seolah-olah mengakibatkan “lapar” yang tak teratasi, kecuali dengan kehadirannya bahan bacaan. Dengan demikian, membaca merupakan kebutuhan sehari-hari yang mesti dipenuhi, seperti halnya kebutuhan makan dan minum. Maka tak heran, kalau dalam bahasa belanda ada kata “lesongher”, yang berarti lapar membaca atau lapar bacaan.
Dari dua cacatan ini, kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa antara orang yang cinta buku (bibliofil) dengan yang gila buku (bibliomania) merupakan dua sisi yang mengisi. Di satu sisi, cinta buku hanya sekedar kegemaran dan kebiasaan membeli buku dan memajangnya di rak-rak buku. Di sisi lain, gila buku berarti mengindikasikan bahwa kita tidak hanya sekedar hobi, tapi lebih dari pada itu kita dapat menjadikan buku sebagai bagian dari pegangan dan pedoman dalam menjalani kehidupan ini. Sehingga kita semua dapat mengambil keteladanan dari seorang penulis atau kandungan yang terdapat dalam sebuah buku.
Namun, yang perlu kita garis bawahi bahwa kedua tipe di atas tidak boleh dipisahkan begitu saja. Sebab, keduanya merupakan satu kesatuan (inhern) yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Yang membedakan antara keduanya, hanyalah terletak pada persoalan motivasi. Selebihnya tidak ada perbedaan signifikan yang menjembatani antara yang cinta dan gila buku. Ini karena, orang yang ingin sampai pada ketekunan dalam membaca buku, tidak bisa lepas dari tahapan yang pertama, yakni cinta buku. Ketika orang sudah memiliki rasa cinta terhadap buku, maka tahap demi tahap (stape by stape) kita akan sampai pada tingkatan pada ketekunan dan keterampilan dalam membaca buku, atau istilah yang lebih populer sebagai orang yang “kutu buku”.
Ketika kita sampai pada tingkatan yang kedua ini, maka secara faktual kita akan menjadi pembelajar yang kreatif dan memiliki orientasi masa depan yang cukup cerah. Dari sikap kreatifnya inilah, kita bisa mengembangkan skill dan potensi yang kita miliki untuk membangun bangsa yang berbudaya. Dalam artian, bahwa hanya dengan buku, bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan memiliki peradaban seperti pada masa kejayaan Daulah Abbasiyah yang berkembang pesat karena menjadikan buku sebagai strategi untuk membangun sebuah peradaban. Semoga!
*Mohammad Takdir Ilahi, Pustakawan Tinggal di Yogyakarta.
Sedang Studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Emael. tkdr_ilahi@yahoo.co.id.
No.Hp 081804370678. No.Rek 0130558568
BNI Cabang UGM a/n Mohammad Takdir.
Jumat, 25 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar