Kamis, 24 April 2008

Globalisasi-Phobia dan Gerakan Local Wisdom

Prolog
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu disadari tidak selalu memberikan dampak positif bagi proses kemandirian dan sikap menghargai hasil produktifitas dalam negeri. Bahkan tidak jarang, karena kemajuan tersebut, generasi muda kita mulai kehilangan spirit dalam mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa yang sudah tertanam sejak dahulu kala. Kehilangan spirit ini, boleh jadi disebabkan oleh romantisme budaya yang semakin berkembang akibat tergerus oleh implikasi globalisasi yang syarat dengan kebebasan.
Persoalan ini, pada gilirannya akan berdampak pada sikap apatis dan budaya malas generasi muda untuk mengembangkan potensi dan skill yang belum matang. Sikap apatis dan budaya malas ini bisa saja dapat menghambat regenerasi yang memiliki prospek cerah dan yang dapat diandalkan untuk membangun bangsa ini agar terlepas dari problem kebangsaan yang semakin akut.
Perlu disadari, bahwa bangsa ini di masa yang akan datang akan semakin keteteran dalam menghadapi berbagai persoalan internasional seiring kehadiran globalisasi yang membawa perubahan secara drastis bagi perilaku dan tingkah laku generasi muda. Mengingat generasi muda adalah sebagai pioner pembangunan dan penerus tampuk kepemimpinan bangsa ke depan.
Kekhawatiran kita terhadap menurunnya spirit generasi muda dalam mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa, tidak bisa dibiarkan terus berlarut-larut. Ini karena, dampak yang akan dihadapi dalam menghadapi persaingan hidup dan kemajuan globalisasi pada akhirnya akan semakin meruntuhkan nilai-nilai budaya bangsa yang sudah mapan.
Sekilas Memahami Globalisasi
Istilah globalisasi dalam ranah kehidupan barangkali sudah dikenal oleh banyak kalangan. Ia (globalisasi) merupakan gambaran kehidupan yang telah melahirkan kemajuan sains dan teknologi bagi kemakmuran hidup manusia. Dengan kemajuan itu, segalanya dapat dilakukan untuk memperoleh kemudahan dan kenyamanan dengan memanfaatkan sarana serba canggih tersebut. Maka tak heran, ketika Anthony Gidden, menyebutnya sebagai “time-space distance”.
Berbeda dengan Featherstone, yang mengatakan bahwa globalisasi pada gilirannya akan melahirkan “global culture (which) is encompassing the world at the international level”. Sedangkan dalam pandangan Peter J.M Nas, globalisasi dapat dipahami sebagai reaksi dan elaborasi terhadap dua gejala sosiologis yang sekarang telah terjadi. Gejala sosiologis tersebut, ditandai dengan berkembangnya “the world system and modernization”. Dengan kehadiran globalisasi, masyarakat akan mengalami perubahan dari gejala global yang dapat mengantarkannya pada level yang tinggi.
Munculnya globalisasi dalam tatanan kehidupan manusia, memang tidak dapat terbantahkan lagi. Fenomena globalisasi dalam pandangan Mansour Fakih, tidak mungkin bisa dihindari, karena kolonialisme berwajah baru tersebut tengah bersetubuh dengan berbagi sendi kehidupan manusia, baik aspek ekonomi, politik, budaya, sosial kemasyarakatan, bahkan dalam aspek pendidikan.
Memang diakui, bahwa globalisasi telah membawa kita pada kemakmuran ekonomi dan kemajuan iptek. Namun, lebih dari pada itu, globalisasi juga telah membawa kita pada krisis spritual dan keperibadian yang mengkhawatirkan, sehingga memunculkan kesenjangan dan kekerasan sosial, serta ketidakadilan demokrasi di Indonesia. Meminjam istilahnya, Ali Formen Yudha, globalisasi telah mengantarkan kita pada apa yang disebut dengan “gagap spiritual”.
Implikasi mendasar telah kita rasakan, tapi ironisnya hanya sedikit orang yang memahami secara substansial akan implikasi globalisasi. Sebaliknya, di Indonesia terdapat reaksi yang gagap gempita menyambut globalisasi, baik pemerintah, pengusaha, maupun media massa. Seoal-olah munculnya globalisasi merupakan satu-satunya jalan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di masa depan. (Ulumul Qur’an, No 6/VII/1997).
Indikasi Globalisasi
Globalisasi dengan demikian, ditandai dengan beberapa hal. Pertama, globalisasi pada dasarnya terkait dengan kemajuan dan inovasi teknologi, arus komunikasi dan informasi yang mencapai lintas batas negara.
Kedua, globalisasi tidak bisa dipisahkan dari akumulasi kapital. Sebagaimana Wallerstain seorang pelopor teori sistem dunia, memandang bahwa globalisasi tidak hanya sebatas hubungan lintas batas negara, namun globalisasi merupakan wujud kejayaan ekonomi kapitalis dunia yang digerakkan oleh logika akumulasi kapital. (Robert Holton, 1998: 11).
Ketiga, globalisasi berkaitan dengan semakin tingginya intensitas perpindahan manusia, pertukaran budaya, nilai dan ide-ide yang lintas negara. Ketika intensitas itu semakin tinggi, maka sudah barang tentu benturan globalisasi akan semakin merajalela ke berbagai aspek kehidupan.
Keempat, globalisasi ditandai dengan semakin meningkatnya keterkaitan dan ketergantungan, yang tidak hanya antar bangsa tapi juga antar masyarakat. Keterkaitan dan ketergantungan ini, boleh dikatakan akan semakin mempersempit budaya mandiri dikalangan generasi muda. Jika ini terjadi, maka kemandirian bangsa yang diharapkan mampu menghasilkan generasi-generasi potensial, tangguh, ulet, visioner, dan revolusioner hanya akan menjadi impian belaka.
Dari berbagai indikasi yang melatarbelakangi lahirnya globalisasi, terdapat tiga kemungkinan pilihan dalam menghadapi globalisasi. Pertama, rasa optimis. Pilihan ini, pada dasarnya diambil oleh pelaku bisnis dan pemerintahan dunia maju, juga diterima sebagai taken for granted oleh mereka yang terpesona dengan penemuan ilmu pengetahuan mutakhir, teknologi komunikasi dan informasi serta mereka yang gandrung dengan gaya modern, namun lupa memberikan perhitungan terhadap kerugian yang diciptakan oleh gaya hidup (life style) konsumerisme dan jaringan pornografi. Yang sering jadi masalah pada pilihan ini, adalah tidak memperhatikan implikasi negatif dari globalisasi, seperti halnya teknologi modern atas lingkungan dan ancaman kehidupan melalui bioteknologi tak bisa terkendalikan.
Kedua, pilihan skeptis. Pilihan ini dimiliki oleh mereka yang telah memahami globalisasi sebagai kemandirian ekonomi, politik ideologi, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang tidak memperhitungkan keselamatan manusia. Bagi kalangan ini, globalisasi tak lain adalah kolonialisasi politik ideologi baru.
Ketiga, kompromis-kritis. Pilihan ini berarti bagi mereka yang meskipun menyentuh globalisasi ekonomi dan politik ideologi, tetapi masih mempunyai harapan cerah pada globalisasi ilmu pengetahuan. (Sindhunata, 1982: 5).
Kapitalisme Global: Implikasi Paling Kentara
Sebagian generasi muda kita, banyak yang terjebak dengan beragam romantisme budaya yang memikat dan menarik, sehingga membuat mereka tertarik untuk mengikuti arus kapitalisme global yang memberikan ruang dan kesempatan begitu menakjubkan.
Demikian halnya, dengan kapitalisme global yang berupaya mencampuradukkan nilai-nilai budaya bangsa yang luhur dengan nilai-nilai budaya barat yang amburadul karena tidak dilandasi oleh pegangan moral dan agama. Ini karena, tujuan yang diusung oleh kapitalisme global adalah bahwa ukuran kebahagian hidup diindikasikan dengan adanya modal dan keuntungan.
Terkikisnya nilai-nilai luhur ini, banyak diakibatkan oleh keterkungkungan kita terhadap tawaran yang diberikan antek-antek para kaum kapitalis yang ingin meracuni keluhuran budaya kita yang sudah mapan. Jika ini terjadi, maka nilai-nilai budaya yang sudah ada juga akan terkikis seiring dengan terjangkitnya kita pada budaya kapitalis.
Inilah yang menjadi kekhawatiran saya, ketika melihat fenomena yang terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Dari pengamatan saya, sebagian besar generasi muda (mahasiswa dan pelajar) telah terjebak oleh kebudayaan populer. Ini terbukti dengan semakin maraknya senetron lokal dan telenovela impor tak henti-hentinya menyedot penonton dan memikat orang untuk duduk bertahan di depan pesawat televisi, atau bagaimana mal-mal dan pusat belanja tumbuh bagaikan jamur yang tidak hanya di kota-kota besar, namun juga dipelosok-pelosok desa.
Memberdayakan Gerakan Local Wisdom
Dalam sejarah kehidupan manusia, nilai-nilai budaya menjadi landasan kemajuan peradaban bangsa yang sangat gemilang. Hal ini dapat kita buktikan dengan perkembangan dan kemajuan suatu bangsa yang tidak bisa lepas dari peran penting budaya. Melalui nilai-nilai budaya ini, kita dapat dengan mudah mengenal identitas yang menjadi ciri khas suatu bangsa.
Ketika globalisasi dianggap sebagai phobia dalam tatanan kehidupan masyarakat, terutama bagi nilai-nilai budaya yang sudah tertanam, maka muncullah motivasi untuk membendung gejala global tersebut. Motivasi ini didasarkan atas ketidakmampuan kita dalam mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa secara keseluruhan. Karena itulah, mengantisipasi terjadinya benturan peradaban, nilai, agama, dan budaya menjadi sangat penting.
Dalam menghadapi era kebebasan ini, kita memang tidak memiliki kekuatan yang utuh untuk mengantisipasi terjadinya persoalan yang menyangkut perpecahan, pertikaian, dan runtuhnya nilai-nilai budaya bangsa. Namun, perlu disadari bahwa kita masih memiliki pedoman moral (way of life) sebagai landasan dalam meng-counter segala aspek negatif yang dibawa globalisasi. Salah satu gerakan yang bisa kita lakukan adalah dengan memberdayakan local wisdom sebagai nilai-nilai luhur yang masih memiliki kekuatan untuk menghadapi ancaman dan ketakutan kita terhadap meluasnya pengaruh globalisasi.
Gerakan local wisdom memang bukan merupakan sebuah teori-praktis dalam membendung setiap persoalan yang muncul. Namun, melalui gerakan local wisdom ini kita bisa membangun semangat dan kepercayaan diri yang berlipat ganda untuk tetap mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa yang tergerus akibat digerogoti oleh antek-antek globalisasi. Local wisdom, sebagai sebuah gerakan yang banyak mengusung warisan budaya lokal diharapkan mampu menjaga keberadaan setiap nilai budaya yang ada di daerah.
Mengusung local wisdom dalam keadaan terjepit seperti ini, bagi saya adalah pilihan yang paling tepat dan efektif. Ini karena, local wisdom tidak hanya bertujuan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya lokal, tetapi juga sebagai upaya untuk mengapresiasi nilai-nilai budaya yang selama ini sudah menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia.
Gerakan local wisdom yang menjadi jalan alternatif bagi kita dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, membangun kelembagaan berlandaskan nilai dan norma yang menyuburkan persatuan dan kesatuan bangsa. Landasan nilai dan moral ini, bagi saya sangat penting dalam rangka menanamkan kepercayaan mendalam terhadap nilai-nilai budaya bangsa.
Kedua, menanamkan nilai-nilai pancasila, jiwa sebangsa dan setanah air serta rasa persaudaraan, agar tercipta kekuatan dan kebersamaan di kalangan rakyat Indonesia. Penanaman nilai-nilai pancasila ini sebagai langkah awal dalam memperkokoh semangat nasionalisme dan patriotisme kita terhadap warisan budaya lokal yang banyak menghasilkan nilai-nilai luhur bagi integrasi bangsa.
Ketiga, pembinaan integrasi nasional yang memerlukan kepemimpinan yang arif dan bijaksana. Kita berupaya menanamkan kesadaran kepada generasi muda sebagai pewaris budaya untuk membangun integrasi di kalangan generasi muda yang lain. Kearifan dalam membangun integritas bangsa sangat dibutuhkan dalam rangka menciptakan kekuatan dan kekokohan dalam bersatu dan bekerja sama demi integritas bangsa yang kita impikan.
Epilog
Akhirnya, dengan rasa optimisme yang tinggi dan kepercayaan yang berlipat ganda, maka pada gilirannya kita bisa melawan globalisasi phobia yang menjadi kekhawatiran kita bersama. Adanya globalisasi phobia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan persoalan yang harus dibendung dari permukaan, agar pada perkembangan selanjutnya kita tidak terjebak dengan romantisme budaya yang tidak memiliki nilai-nilai kultur (culture values) yang baik bagi masa depan bangsa. Sehingga disintegrasi bangsa yang menjadi problem kebangsaan benar-benar dapat teratasi dengan baik.

Tidak ada komentar: