Kamis, 24 April 2008

Membendung Sindrom Kemiskinan, Membangun Budaya Entrepreneur

Pendahuluan
In facing recent economic problems, for instance in erasing poverty, making middle community and managing natural resources naturally to reach prosperity, so that Islamic value application is better more directed to motivation productive human resources, in field of farm, industry and service, create professional groups, managers and entrepreneurs.
Abstraksi di atas, sengaja penulis kutip sebagai langkah awal untuk memaparkan secara substansial mengenai sindrom kemiskinan yang menjadi isu kontemporer bagi kehidupan masyarakat. Berbagai problem terus bermunculan seiring derasnya kritikan masyakarat terhadap pemerintah yang dinilai gagal dalam menuntaskan persoalan kemiskinan. Ini ditandai dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengalami kesengsaraan, penderitaan, keterpurukan, dan pengangguran yang terjadi dimana-mana. Persoalan ini, bagi penulis adalah gejala sosial yang banyak melibatkan pemerintah sebagai implikasi utamanya.
Sebagai gejala social, persoalan kemiskinan tidak bisa lepas dari aspek kemanusiaan yang melatarbelakangi terjadinya kesenjangan diantara sesama. Sehingga menyebabkan, masyarakat yang tidak memiliki kekuatan finansial, merasa terabaikan dan terkucilkan di lingkungan mereka tinggal. Kesenjangan inilah yang memunculkan asumsi negatif, bahwa orang miskin tidak bisa berbaur dengan orang-orang yang memiliki kekuatan finansial dan material. Ketika asumsi ini semakin melekat dalam benak masyarakat, maka orang miskin akan semakin merana dengan kemiskinan yang dihadapinya.
Maka, tak heran kalau kemiskinan seringkali dikaitkan dengan persoalan hilangnya kesadaran kemanusiaan yang dimiliki sesama. Ketika kesadaran kemanusiaan hilang, maka yang terjadi adalah kemiskinan akan semakin berkepanjangan tanpa pemacahan persoalan. Karena pada dasarnya, orang miskin membutuhkan uluran tangan kita agar bisa lepas dari jeratan penderitaan dan penistaan. Uluran tangan kita sangat dibutuhkan dalam rangka memberikan motivasi secara moral dan mental. Motivasi kita pada akhirnya akan mampu membangkitkan gairah dan semangat berjuang untuk lepas dari segala keterpurukan yang berkepanjangan.
Secara faktual, banga Indonesia saat ini masih mengalami keterpurukan. Tatkala, negei Jiran menampakkan adanya kebangkitan untuk lepas dari jeratan kemiskinan, Indonesia masih tertatih untuk terlepas dari segala persoalan, dimanan tidak hanya kemiskinan yang menjadi problem krusial bangsa Indonesia. Kerapakali kita tidak menyadari bahwa jeritan tangis penderitaan dan kesengsaraan muncul dari berbagai penjuru tanah air. Meraka menangis dengan tersedu-sedu menanti uluran tangan kita yang diwarnai berbagai kemewahaan dan kesenangan. Sudah saatnya kita, berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan gerakan-gerakan kemanusiaan yang bisa diharapkan mampu menuntaskan segala persoalan yang terkait dengan kemiskinan, apalagi bangsa kita tengah dilanda krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Ketika angka kemiskinan semakin menggurita, di suatu pojok-pojok kehidupan terdapat banyak masyarakat Indonesia yang tengah menikmati gemerlapnya dunia tanpa memperhatikan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan dan dorongan agar mampu melepaskan diri dari persoalan kehidupan yang menghimpitnya. Gaya hidup materialisme yang dicapai dengan cara-cara instant, telah mewarnai pula pada kehidupan masyarakat. Bahkan, gaya hidup ini banyak dipertontonkan oleh para elit bangsa, yang secara tiba-tiba menjadi orang kaya baru (OKB).
Menurut prakiraan BAPPENAS 2004, bahwa angka pengangguran atau kemiskinan hingga tahun 2009 masih akan berkisar pada angka 11 juta jiwa. Untuk mengurangi angka kemiskinan yang sangat tinggi tersebut, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan peningkatan angka pertumbuhan ekonomi sebagai tonggak pembangunan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dalam mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi, faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah akumulasi modal, pertumbuhan penduduk, kemajuan teknologi, dan keadaan tatanan masyarakat itu sendiri. (Tarsito, 2005: 167).
Krisis Ekonomi: Implikasi Paling Mendasar
Ketika melihat pembacaan secara nyata terkait dengan persoalan kemiskinan, maka penulis berkesimpulan bahwa meluasnya angka kemiskinan tidak bisa lepas dari krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia. Ini karena, kemiskinan selalu berkaitan dengan ekonomi dan materi yang menjadi kebutuhan masyarakat luas. Ekonomi dan materi dalam kehidupan pada gilirannya menjadi penopang hidup, dan ketika hal itu berkurang atau bahkan dalam kondisi krisis, maka yang jelas kemiskinan akan menimpa kita.
Terjadinya krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indoesia berawal ketika tumbangnya rezim Soharto oleh para mahasiswa Indonesia yang menuntut mundur penguasa Orde Baru tersebut. Ketika itulah, awal kehancuran perekonomian bangsa mulai terkuak. Akibatnya terjadilah krisis perekonomian yang melanda ke berbagai sektor pembangunan, hingga mengakibatkan rakyat terjebak dalam kemiskinan.
Di Indonesia, krisis ekonomi itu dapat kita lihat dalam gejala resesi perekonomian dunia yang bersumber pada negara-negara maju. Dampak resesi itu, berimplikasi pada turunnya laju pertumbuhan dan menghambat terhadap pembangunan eknomi Indonesia. Jika di negara-negara industri, perekonomian bangsa dapat dipulihkan, maka tidak demikian yang terjadi di Indonesia. (Dawam Raharjo, 1987: 68). Malah sebaliknya, perekonomian kita mengalami antiklimaks dan terjadilah ambivalensi yang berkepanjangan. Kondisi demikian, pada akhirnya berakibat fatal terhadap sistem ekonomi dunia yang juga mengalami ketidakpastian, akibatnya naiknya harga minyak dan suku bunga.
Terjadinya krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia sebenarnya tidak lepas dari melemahnya nilai tukar rupiah yang pada akhirnya berdampak pada sektor lain yang sangat terkait, termasuk pada inflasi harga dan instabilitas perekonomian secara berkelanjutan. Persoalan itu ternyata tidak hanya menyangkut krisis internal yang melanda bangsa kita, akan tetapi juga terkait dengan ambruknya perekonomian dunia yang melilit pada negara-negara maju. Maka tak heran ketika pimpinan Bank Dunia, Hollis Chenery (1975) menilai bahwa perekonomian dunia dewasa ini berada dalam keadaan tidak seimbang yang memuncak dalam situasi yang belum pernah dialami sejak Perang Dunia Kedua. Gejala-gejala yang menampakkan diri selam dua tahun terakhir ini muncul dalam bentuk-bentuk kekurangan bahan baku, krisi pangan dan pupuk, kenaikan harga minyak secara drastis, dan pada akhirnya menimbulkan inflasi dunia, serta ancaman malapeta keuangan.
Frank, seorang ekonom berkebangsaan Amerika, mengatakan bahwa terjadinya krisis ekonomi dunia banyak dipengaruhi oleh kapitalisme yang membawa sistem pasar bebas tanpa batas yang jelas. Ia melihat bahwa sistem kapital dalam suatu bangsa telah merongrong nilai-nilai demokrasi ekonomi yang masih menganut sistem batas minimal. Namun, berkembangnya akumulasi kapital tersebut, menyebabkan situasi dimana industri telah bekerja dibawah kapasitas (terjadi excess tapi juga unsed capacity).
Bahkan, perjalanan pembangunan ekonomi modern di negara-negara industri baru maupun negara-negara maju tiada lain merupakan strategi perdagangan industri yang kadang-kadang dilakukan secara dramatis. Jika strategi ini bisa dilakukan, maka negara-negara yang menerapkannya kemungkinan besar akan mengalami peningkatan dalam pembangunan ekonomi. (Didik Rachbini, 2003: 23).
Dampak negatif dari krisi ekonomi tersebut, setidaknya sudah merongrong stabilitas perekonomian bangsa secara universal. Sebab, bagaimanapun stabilitas perekonomian menjadi langkah strategis bagi tumbuhnya sistem ekonomi global yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Orientasi ini, berdasarkan pada kontekstualisasi ekonomi yang berbasis kerakyatan dan mendukung sepenuhnya terhadap kemakmuran rakyat tanpa terkecuali. Melalui pemberdayaan ekonomi berbasis kerakyatan ini, jeratan kemiskinan yang menimpa kita paling tidak tidak bisa diminimalisir.
Karena itu, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Rizal Ramli, memaparkan strategi dalam pemberdayaan ekonomi yang diharapkan mampu mengatasi kemiskinan. Pertama, pengerahan dan pemberdayaan ekonomi kecil dan menengah yang jumlahnya mungkin 80 persen dari kekuatan ekonomi rakyat. Hal ini penting untuk dilakukan, karena berawal dari Usaha Kecil Menengah (UKM) pertumbuhan ekonomi bangsa bisa ditentukan. Dengan cacatan, perubahan sikap dan mental birokrasi berhasil dilakukan, sehingga lebih efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat.
Kedua, menciptakan ketentraman di lapisan bawah, menengah dan pedalaman, terutama di luar sentra-sentra ekonomi, agar dapat berkembang secara berkesinambungan. Keharmonisan hubungan antar pihak yang terkait, menjadi kunci utama dalam membangun sebuah usaha dalam peningkatan ekonomi pada pertumbuhan yang pesat dan kompetitif. Keharmonisan dalam membangun kerja sama (time work) juga berdampak positif pada kelancaran sistem ekonomi yang sedang dijalankan pada investor-investor yang menanamkan modalnya di Indonesia.
Ketiga, tidak perlu mencari daya beli dari investor asing, cukup mengerahkan daya beli dalam negeri. Kita memang tidak sadar, bahwa sebenarnya ini merupakan upaya orang-orang barat untuk menghegemoni dan mengeksploitasi perekonomian bangsa ini menuju kemerosotan. Seharusnya dengan meningkatkan produksi-produksi dalam negeri, paling tidak sudah ada upaya kongkrit untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Dengan berbekal semangat dan kepedulian terhadap produksi dalam negeri, maka dambaan untuk meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia secara keseluruhan dapat direalisasikan dengan baik. Maka pada gilirannya ketakutan akan bahanya investasi asing, minimal direkonstruksi dengan adanya upaya pengembangan produksi-produksi dalam negeri yang berkualitas.
Kempat, pembenahan sumber keuangan dan pengkreditan melalui perbankan nasional harus segera diperbaiki. Perbaikan lembaga keunagan seperti perbankan dala lain sebagainya, merupakan saran mutlak untuk mengatur aliran daya beli lokal. Tetapi peranan yang tak kalah pentingnya adalah menciptakan daya beli tambahan yang bertujuan unttuk menjembatani daya beli lokal yang sangat tinggi. (Kaptin Adisumatra, 2003: 405)
Itulah barangkali strategi dalam pemberdayaan ekonomi rakyat yang sampai sekarang masih dilanda krisis yang berkepanjangan. Oleh karena itulah, kita membutuhkan peran birokrasi yang profesional dan terampil demi terciptanya perekonomian rakyat yang mapan dan sesuai dengan harapan rakyat seluruhnya.
Budaya Enterpreneurhip:
Langkah Baru Mengatasi Kemiskinan
Enterpreneur is create and innovative abilities which can be basic to develop new ideas and new ways solving a problem and finding out a chance. Inovation is an ability to applicate creativity in order to solve a problem and find a chance too, so that entrepreneur generally, have two roles, that are as creator and planner.
Persoalan kemiskinan yang menimpa bangsa Indonesia tidak bisa dibiarkan begitu saja. Persoalan ini mesti membutuhkan strategi alternatif agar kemiskinan yang melanda ke berbagai sektor pembangunan, termasuk ke kalangan akademisi dapat teratasi dengan baik. Menurut David Osborne dan Ted Gaebbler (2005), segala aspek kemiskinan dapat diatasi dengan memperkuat budaya entrepreneurship (wirausahawan). Menurutnya, budaya entrepreneurship merupakan salah satu jalan terbaik yang bisa dilakukan untuk mengatasi angka pengangguran bagi lulusan perguruan tinggi. Karena bangsa yang berada dalam genangan keterpurukan, kemiskinan dan pengangguran, hanya bisa dikeluarkan dengan membangun budaya kemandirian atau budaya kewirausahaan.
Menurut Tarsito (2005), budaya entrepreneurship (wirausahawan) dapat berimplikasi pada kemampuan menciptakan lapangan kerja baru yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi angka pengangguran serta membentuk masyarakat baru yang berbasis pengetahuan (knowledge). Masyarakat berbasis pengetahuan, oleh Thuraw dapat terbentuk atas lima elemen dasar, yaitu penataan masyarakat, kewirausahaan (entrepreneurship), pembentukan knowledge, keterampilan, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Schumper, seorang ekonom klasik mengungkapkan, bahwa pertumbuhan ekonomi suatu bangsa merupakan fungsi dinamis dari entrepreneurship masyarakatnya. Hilangnya sikap entrepreneurship masyarakat dari suatu bangsa akan bisa berakibat fatal terhadap stagnasi pertumbuhan ekonomi bangsa, meskipun mereka menguasai faktor-faktor produksi sekalipun. Oleh karenannya, jiwa entrepreneurship memiliki peranan penting dalam mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, dan pada akhirnya akan mampu menimalisir kemiskinan yang menimpa bangsa ini. (Zakaria, 2005).
Meskipun sampai sekarang belum ada terminologi yang persis sama tentang kewirausahaan (entrepreneurship), akan tetapi pada umumnya memiliki hakekat yang sama, yaitu merujuk pada sifat, watak, dan karakter seseorang untuk mewujudkan gagasan inovatif dan kreatif dalam dunia usaha. Seorang entrepreneur adalah seorang yang memiliki kemampuan berdikari dan berkarir di masa depan, dengan diimbangi oleh motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dan kemampuan memanfaatkan peluang dalam usaha. Semangat dan kerja keras dalam hal ini menjadi karakter tetap dari seorang entrepreneur, karena visi yang dikedepankan adalah bagaimana membangun masa depan yang cerah dan terlepas dari persoalan pengangguran dan kemiskinan. Itulah sebabnya, kenapa entrepreneurship menjadi jalan alternatif untuk mengatasi berbagai persoalan kebangsaan, terutama persoalan kemiskinan yang sampai sekarang masih belum menampakkan hasil yang optimal.
Pada dasarnya, istilah kewirausahaan berasal dari terjemahan entrepreneurship yang dapat diartikan sebagai "the backbone of economy", yaitu syarat pusat perekonomian atau sebagai "tailbone of economy", yaitu pengendali perekonomian suatu bangsa. (Soeharto Wirakusumo, 1997:1). Secara epistimologi, kewirausahaan merupakan nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha atau suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru. Dalam pandangan Thomas Zimmerer (1996), entrepreneurship adalah "applying creativity and innovation to solve the problems and to exploit opportunities that people face every day".
Dalam konteks ini, kewirausahaan adalah gabungan kreativitas dan inovasi yang bertujuan untuk memecahkan persoalan kehidupan yang dihadapi, terutama ketika memasuki dunia usaha. Kreativitas menurut Zimmerer, diartikan sebagai kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru yang dapat digunakan sebagai upaya menghadapi persoalan dan mencari peluang secara optimal. (creativity is the ability to develop new ideas and to discover new ways of looking at problems and opportunities).
Melalui pengembangan budaya entrepreneurship ini, persoalan kemiskinan yang melilit bangsa kita dapat teratasi dengan baik. Sebab, dengan adanya entrepreneurship dalam jiwa kita, maka usaha untuk membangun kemandirian tanpa harus banyak bergantung pada orang lain sedikit demi sedikit akan tumbuh dan berkembang. Karena kemandirian bangsa di atas pranata budaya entrepreneur, bisa menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu bangkit dari keterpurukan yang mengkungkung. Dalam artian, berjuang melawan kemiskinan adalah bagian dari jihad yang menjadi keniscayaan bagi seluruh elemen bangsa, dan keberhasilan kita melawan kemiskinan merupakan usaha maksimal yang mesti dipertahankan secara berkelanjutan.
Penutup
Dengan demikian, persoalan kemiskinan bukan menjadi halangan untuk mengembangakn potensi dan skill yang kita miliki. Akan tetapi, bagaimana kita mampu membangun kepercayaan diri (self confidence) agar bisa lepas dari segala keterpurukan yang menimpa kita bersama. Tentunya hal itu, dapat dilakukan hanya dengan membiasakan diri membangun budaya entrepreneurship.

Tidak ada komentar: